Kaum Yang Tidak Terlindungi Dari Sinar Matahari

Para geografer Muslim pada abad pertengahan menyebut bagian tertentu dari Afrika Tenggara (terutama Pesisir Swahili) dengan nama Zanj (Arab: زَنْج‎, artinya "Orang kulit hitam"). Kata tersebut juga merupakan asal muasal dari nama-nama seperti Zanzibar ("pantai orang kulit hitam") dan Laut Zanj. Secara historis, wilayah bangsa Zanj meliputi sepanjang pesisir timur pantai Kenya, Tanzania, dan Mozambik.

Para budak dari bangsa Zanj pada tahun 1860. (Wikimedia)
Temuan berupa tembikar kuno menunjukkan rute perdagangan yang ada antara bangsa Zanj dengan peradaban Sumeria (4500 SM – 1900 SM) dan Assyria (2500 SM–609 SM). Bukti arkeologis dari Afrika Timur menunjukkan hubungan ekonomi antara bangsa Zanj dengan pelabuhan-pelabuhan Pra-Iran selatan dari abad ke-3 hingga ke-15 sebelum Masehi (kemungkinan kerajaan Elam). Sejarah tradisional Afrika mengkonfirmasi pembentukan beberapa pelabuhan Afrika Timur dengan Shiraz (kota pelabuhan di Iran).

Di daerah asalnya, bangsa Zanj belum mengenal pertanian dan peralatan yang terbuat dari besi selama milenium pertama Masehi. Bukti yang ditemukan di kota-kota Pantai Swahili menunjukkan bahwa pertanian baru dikenal pada abad ke-9 Masehi. Fase perkembangan kota yang terkait dengan pengenalan bahan bangunan dimulai setidaknya dari abad ke-10 Masehi. Bahkan meskipun sudah mengenal pertanian dan bangunan, penduduk bangsa Zanj umumnya tidak menggunakan pakaian dalam kehidupan sehari-hari (telanjang). Seorang kartografer dan insinyur Prancis bernama Alain Manesson Mallet (1630-1706 Masehi) menjelaskan bahwa penduduk wilayah Zanj masih hidup dalam keadaan seperti itu ketika ia melihat mereka pada tahun 1685 Masehi.

Menurut teks geografis Pra-Iran yang masih ada di Afrika Timur, terdapat sebuah pantai, disebut Zangestān. Lokasi pantai tersebut berseberangan dengan kota Fārs , kota Kermān, dan kota Sind. Penduduk pantai Zangestān digambarkan sangat hitam, dengan rambut keriting dan memiliki sifat binatang liar.

Allah SWT berfirman sebagai berikut:

Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. [Surat Al-Kahf Ayat 89-91]

Ayat di atas menceritakan tentang kisah Żul Qarnain, seseorang yang diberikan kepadanya kekuasaan di (muka) bumi oleh Allah SWT. Dia juga telah diberikan jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Pada suatu ketika ia  menempuh perjalanan kearah timur. Żul Qarnain menemukan umat lain yang sangat teramat miskin. Saking miskinnya, mereka tidak bisa melindungi diri mereka sendiri dengan tempat untuk berteduh dari sinar matahari.

Pesisir Swahili (Afrika), tempat tinggal bangsa Zanj. (Wikimedia)
Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menuturkan bahwa yang dimaksud dengan "segolongan umat" dalam ayat di atas berada di timur "Afrika Selatan". Tentu saja, yang dimaksud dengan "Afrika Selatan" pada zaman dahulu memiliki cakupan yang luas, yaitu wilayah Zanj seperti yang sudah dijelaskan di paragraf awal. Mereka tidak terlindung dari sinar matahari karena mereka tidak memiliki pengetahuan dalam membuat bangunan. Mereka tidak pernah atau jarang melakukan urbanisasi. Sama seperti penggambaran terhadap penduduk pantai Zangestān, Imam As-Sa'di mengatakan bahwa mereka memiliki sifat ganas dan brutal.

Imam Qurtubi berkesimpulan bahwa tidak ada kota di tempat kaum tersebut tinggal. Adapun Ibnu Katsir berpendapat bahwa mereka tidak memiliki bangunan. Selain itu, pohon tidak melindungi mereka dari panasnya matahari.

Beberapa bagian wilayah Zanj beriklim sabana tropis. Iklim ini memiliki suhu rata-rata di atas 18 °C pada setiap bulan dalam setahun dan biasanya dengan musim kemarau yang jelas, dengan bulan terkering memiliki kurang dari 60 mm (2,36 inci) curah hujan. Pada iklim sabana tropis, musim kering dapat menjadi parah, dan sering kondisi kekeringan berlangsung selama satu tahun. Iklim sabana tropis umumnya menampilkan padang rumput bertabur pohon, bukan hutan lebat. Dalam kondisi spesifik, iklim ini menghasilkan sabana murni, tanpa pepohonan. Wallaahu a’lam bishawaab.

Sumber:

Iranicaonline - East Africa.

King Saud University - Tafsir As-Sa'di, Tafsir Ibnu Katsir & Tafsir al-Baghawi.

Wikipedia - History of Zanzibar, Iklim sabana tropis, Zanj, Żul Qarnain.

Laut Dengan Lumpur Hitam

Peristiwa menyemburnya lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia pada tahun 2006 telah menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Terlepas dari faktor kesalahan manusia dalam peristiwa tersebut, lumpur panas bisa terjadi secara alami melalui gunung berapi lumpur. Melalui ilmu pengetahuan yang terus berkembang, diketahui bahwa terdapat beberapa gunung berapi yang tidak mengeluarkan lava saat erupsi. Sebagai gantinya, mereka mengeluarkan material dalam bentuk lumpur. Beberapa proses geologis dapat menyebabkan pembentukan gunung berapi lumpur. Gunung tersebut bukanlah gunung berapi sesungguhnya karena tidak menghasilkan lava dan tidak didorong oleh aktivitas magmatik. Gunung berapi lumpur dapat memiliki ukuran mulai dari yang tingginya hanya 1 atau 2 meter dan lebar 1 atau 2 meter, hingga setinggi 700 meter dan lebar 10 kilometer.

Laut Azov, Merupakan laut pedalaman yang terpisah dari Laut Hitam oleh Semenanjung Krimea. (Wikimedia)
Lumpur yang dihasilkan oleh gunung berapi sebagian besar terbentuk melalui air panas, yang telah dipanaskan jauh di bawah permukaan bumi. Air panas tersebut bercampur dan menyatu dengan endapan mineral bawah tanah, sehingga menciptakan lumpur. Suhu setiap gunung berapi lumpur aktif umumnya cukup stabil dan jauh lebih rendah daripada suhu yang ditemukan di gunung berapi yang mengeluarkan lava. Temperatur gunung berapi lumpur dapat berkisar dari 100 ° C hingga 2 ° C.

Banjir lumpur panas terjadi karena adanya tekanan jauh di dalam Bumi. Hal itu menyebabkan gunung berapi memuntahkan lumpur, gas, dan cairan, seperti air asam, ke permukaan. Erupsi disebabkan oleh kekuatan tektonik bumi atau oleh tekanan sedimen di delta sungai besar. Gunung berapi lumpur tidak hanya ada di darat, melainkan ditemukan juga di dasar laut. Ketika terjadi erupsi, menyebabkan air laut di area gunung tersebut menjadi keruh kehitaman karena dipenuhi dengan lumpur.

Allah SWT berfirman sebagai berikut:

Maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka." Berkata Dzulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami". [Surat Al-Kahf Ayat 85-88]

Menurut penjelasan Ibnu Abbas (ra), lumpur hitam dalam ayat di atas berasal dari air panas dari tanah yang mengalir secara alami. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh ahli tafsir seperti Ibnu Jarir. Adapun Imam Al Qurtubi berpendapat bahwa lumpur tersebut panas dan bersifat semi padat.

Ayat di atas menceritakan tentang kisah Żul Qarnain, seseorang yang diberikan kepadanya kekuasaan di (muka) bumi oleh Allah SWT. Dia juga telah diberikan jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Ketika Żul Qarnain sedang melakukan perjalanan kearah barat ia melihat matahari terbenam di dalam laut yang memiliki lumpur berwarna hitam. Żul Qarnain melihat sekelompok umat yang tidak memiliki agama, sehingga ia diberikan pilihan oleh Allah boleh untuk menyiksa atau mengajarkan agama kepada umat tersebut.


Tidak diketahui secara persis di daerah mana keberadaan laut yang berlumpur hitam dalam kisah tersebut. Pada tahun 2015, laut Azov mengalami fenomena sama seperti deskripsi dalam ayat al-Qur'an di atas. Gunung berapi yang ada di dasar laut itu memuntahkan lumpur yang terbuat dari air dan gas yang bercampur dengan pasir dan tanah. Material lumpur melesat beberapa meter ke udara, menyerupai air mancur. Semburan lumpur membentuk sebuah pulau datar yang lebar, tak jauh dari pantai Semenanjung Taman.

Sekitar 86% gas yang dilepaskan dari banjir lumpur panas adalah metana, serta sedikit karbon dioksida dan nitrogen. Warga lokal dan wisatawan menggunakan lumpur bumi untuk menyembuhan atau untuk mengobati gangguan sistem saraf, radang sendi, linu panggul, dan pielonefritis. Wallaahu a’lam bishawaab.

Sumber:

King Saud University - Tafsir al-Tabari & Tafsir al-Qurtubi.

Quranx - Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs.

RT - Offshore mud volcano erupts in Sea of Azov (VIDEO).

Worldatlas - What Is a Mud Volcano?

Wikipedia - Mud volcano & Żul Qarnain.

Kemenangan Kekaisaran Romawi Terhadap Kekaisaran Persia

Adhri'at dan Bushra pada zaman dahulu adalah dua kota di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi Timur. Adhri'at (Daraa, kadang disebut Adraa) adalah sebuah kota di Suriah barat daya, terletak sekitar 13 kilometer di utara perbatasan dengan Yordania. Kota ini dikuasai Romawi pada tahun 106 Masehi oleh kaisar Trajan dan termasuk bagian dari provinsi Saudi Petraea. Pada abad ke-3, Adhri'at memperoleh status polis (kota yang diperintah sendiri). Sejarawan Romawi Eusebius menyebut Adhri'at sebuah kota (polis) Arab yang terkenal. Wilayah timur Adhri'at dikenal sebagai pusat orang Ebionit (salah satu sekte dalam agama Nasrani).

Ilustrasi pasukan kekaisaran Sasaniyah (Persia). Selama kurun waktu 602-621 Masehi, kekaisaran Sasaniyah menyerang dan menduduki wilayah kekaisaran Romawi Timur. (Image: Wikimedia)
Adapun Bushra (Bahasa Arab: بصرى, huruf latin: Buṣrā) adalah sebuah kota yang terletak di Suriah selatan. Di bawah Kekaisaran Romawi, Bushra berganti nama menjadi Nova Trajana Bostra dan dijadikan ibu kota provinsi Romawi Arabia Petraea. Kota ini berkembang dan menjadi kota metropolis utama karena adanya jalan Romawi yang menghubungkan Damaskus ke Laut Merah. Jalan tersebut menjadi pusat penting untuk produksi makanan. Menjelang abad ke-5, agama Nasrani menjadi agama dominan di Bushra. Kota Bushra menjadi tempat bagi uskup agung Metropolitan. Sebuah katedral besar juga dibangun pada abad keenam.

Tepat pada titik ini dalam sejarah, Khosrau II (590-628 M) menjadi raja Sasaniyah (Persia). Di awal masa pemerintahannya, Raja Khosrau II berusaha membangun kembali kejayaan kekaisaran Achaemenid dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan sekitar secara agresif. Pada tahun 602 Masehi ia melancarkan serangan terhadap Romawi Timur dengan tujuan menganeksasi sebanyak mungkin wilayah kekaisaran tersebut. Pada tahun 610 Masehi, Sasaniyah telah menaklukkan Mesopotamia dan Kaukasus. Mereka selanjutnya menyerbu Suriah dan memasuki wilayah Yerusalem pada tahun 614 Masehi.

Kuil Buhaira di kota Bushra. Buhaira adalah seorang rahib Nasrani yang melihat tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah. (Image: Wikimedia)
Pada tahun 613 Masehi, Nicetas menemani kaisar Heraklius dalam perang melawan Sasaniyah, tetapi keduanya dikalahkan dalam Pertempuran Antiokhia. Nicetas adalah sepupu Kaisar Heraklius (kaisar Romawi Timur ketika peristiwa kekalahan di Antiokhia terjadi). Kekalahan ini menjadi tonggak penting yang mengakibatkan jatuhnya wilayah Suriah dengan cepat ke Sasaniyah, termasuk wilayah Adhri'at dan Bushra. Pasukan Romawi Timur di kota Adhri'at dipimpin oleh Nicetas. Dia terus melawan pasukan Sasaniyah tetapi selalu mengalami kekalahan. Pertempuran antara Romawi Timur dengan Sasaniyah di kota Adhri'at berlangsung antara tahun 613-614 Masehi. Setelah mengalahkan Romawi Timur, pasukan Sasaniyah memusnahkan kebun-kebun zaitun di kota itu.

Allah SWT berfirman sebagai berikut:

Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. [Surat Ar-Rum Ayat 1-5]

Makna Bid' atau "dalam beberapa tahun lagi" menurut tradisi bangsa Arab adalah kurun waktu antara tiga hingga sembilan tahun.

Asbab Al-Nuzul ayat-ayat tersebut berkenaan dengan peperangan antara kekaisaran Romawi Timur dengan kekaisaran Sasaniyah pada masa kehidupan nabi Muhammad Saw. Chosroes (Khosrau II) mengirim pasukan di bawah komando seorang panglima bernama Shahryaraz (Shahrbaraz) ke Romawi Timur. Pasukan Sasaniyah menyerbu Romawi Timur dan mengalahkan mereka. Shahryaraz beserta pasukannya membunuh orang-orang Romawi, menghancurkan kota-kota mereka dan menghancurkan semua pohon zaitun mereka. Kaisar (Heraklius) mempercayakan perintah pasukannya kepada seorang bernama Juhannas (Nicetas?). Juhannas berperang melawan Shahryaraz di Adhri‘at dan Busrah, yang merupakan bagian terdekat Suriah dengan tanah bangsa Arab. Dalam pertempuran tersebut, Sasaniyah berhasil mengalahkan Romawi Timur.

Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya mendengar ini di Mekah dan merasa sedih karenanya. Rasulullah Saw tidak suka bahwa bangsa Magian (Sasaniyah), yang tidak memiliki Kitab Suci yang diwahyukan, lebih unggul daripada bangsa Romawi yang merupakan orang-orang dalam Kitab. Orang-orang kafir di Mekah, di sisi lain, gembira dan dengki. Ketika bertemu dengan para sahabat Nabi, mereka (Orang-orang kafir Mekah) berkata: ‘Kalian adalah Ahli Kitab dan umat Nasrani adalah orang-orang di dalam Kitab. Kami tanpa Kitab Suci yang diwahyukan. Adapun saudara-saudara kami dari Sasaniyah telah mengalahkan saudara-saudara kalian, kekaisaran Romawi Timur. Jika kalian hendak melawan kami, kami juga akan mengalahkan kalian '. Karena itu, Allah Swt mewahyukan (Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri terdekat) sampai akhir ayat-ayat ini ”.

Diriwayatkan oleh Sa'eed bin Jubair:

Dari Ibn 'Abbas, mengenai firman Allah Swt: Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri terdekat. (30: 1-3) ". Ia berkata:" Ghulibat wa Ghalabat (dikalahkan dan kemudian dimenangkan). "Ia berkata:" Para penyembah berhala ingin agar kekaisaran Persia (Sasaniyah) menang atas kekaisaran Romawi karena mereka juga kaum yang menyembah berhala; sementara umat Muslim ingin Romawi menang atas Persia karena mereka adalah para Ahli Kitab. Peristiwa ini diketahui oleh Abu Bakar ra, maka Abu Bakar ra menyampaikan hal itu kepada Rasulullah (ﷺ). Beliau bersabda: "Mereka (Romawi Timur) pasti akan menang." Abu Bakar ra menyampaikan hal itu kepada mereka (kaum penyembah berhala), dan mereka berkata: 'Buat taruhan di antara kami dan kamu; jika kami menang, kami akan mendapatkan ini dan itu, dan jika kamu menang, kamu akan mendapatkan ini atau itu. ' Dia (Abu Bakar ra) bertaruh dalam lima tahun (Romawi Timur akan menang), tetapi mereka (kekaisaran Romawi) tidak menang. Mereka (umat Muslim) menyampaikan hal itu kepada Nabi (ﷺ). Beliau bertanya: "Mengapa kamu tidak membuatnya kurang (dari)" - Dia (salah satu perawi berkata): Saya pikir beliau berkata: "sepuluh?" Dia berkata: Sa'eed berkata: "Al-Bid' adalah yang kurang dari itu" - Dia berkata: "Setelah (Abu Bakar ra kalah bertaruh) bangsa Romawi (mendapat) kemenangan." Dia berkata: "Itulah yang difirmankan Allah Swt: 'Alif Laam Miim. Bangsa Romawi telah dikalahkan' hingga firman-Nya: 'Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. (30: 1-5). ' Sufyan berkata: "Aku mendengar bahwa mereka (umat Muslim) menang atas mereka (kaum penyembah berhala) pada pertempuran Badr." (Jami' at-Tirmidhi, Vol. 5, Book 44, Hadith 3193)

Kapadokia, tempat dimana pasukan Romawi Timur mengalahkan pasukan Sasaniyah pada pertempuran tahun 622 Masehi. (Wikimedia)
Secara logika, menjagokan Romawi Timur pada masa itu tentu dianggap tindakan bodoh. Ancaman terhadap Romawi Timur bukan hanya berasal dari arah timur (Sasaniyah) tetapi juga dari arah barat dan utara. Mereka adalah bangsa Avar dan bangsa Slavia. Keduanya menjadi ancaman serius bagi Romawi Timur di wilayah Eropa. Sementara Mesopotamia, Kaukasus, Levant, Anatolia dan Mesir sudah ditempati dan dikuasai oleh pasukan Sasaniyah; Avar dan Slavia menyerbu wilayah Balkan. Mereka mampu menguasai beberapa kota Romawi Timur, diantaranya Singidunum (Beograd), Viminacium (Kostolac), Naissus (Niš), dan Serdica (Sofia). Mereka juga menghancurkan kota Salona pada tahun 614 Masehi. Uskup Agung dari Sevilla bernama Isidorus mengatakan bahwa bangsa Slavia mengambil "Yunani" dari Romawi Timur. Bangsa Avar juga mulai menyerang wilayah Thrace, mengancam perdagangan dan pertanian, bahkan di dekat gerbang Konstantinopel.

Mengingat pasukan Sasaniyah sudah sangat dekat di gerbang Konstantinopel (ibukota Romawi Timur), Heraklius menawarkan perdamaian dengan imbalan upeti tahunan seribu talenta emas, seribu talenta perak, seribu jubah sutra, seribu kuda, dan seribu perawan kepada penguasa Sasaniyah. Perdamaian memungkinkan dia untuk membangun kembali pasukan Kekaisaran dengan memotong pengeluaran non-militer, mendevaluasi mata uang, dan melebur harta Gereja untuk mengumpulkan dana yang diperlukan untuk melanjutkan perang.

Ilustrasi pasukan Romawi Timur di bawah pimpinan kaisar Heraklius. (Wikimedia)
Pada tahun 622 Masehi, kaisar Heraklius siap untuk melakukan serangan balasan terhadap kekaisaran Sasaniyah yang telah menguasai sebagian besar provinsi timur Kekaisaran Romawi Timur. Untuk mengusir pasukan Sasaniyah di Anatolia dan Suriah, langkah pertamanya adalah berlayar dari Konstantinopel ke Pylae (Bithynia). Dia menghabiskan pelatihan musim panas untuk meningkatkan kemampuan berperang para prajuritnya. Pada musim gugur, Heraklius dan pasukannya bergerak menuju Kapadokia utara kemudian menyatakan perang secara terbuka. Hal ini memaksa pasukan Sasaniyah di Anatolia di bawah pimpinan Shahrbaraz untuk mundur dari garis depan Bithynia dan Galatia menuju Anatolia timur untuk memblokir akses pasukan Heraklius. Apa yang terjadi selanjutnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi Heraklius secara tidak terduga mampu memenangkan pertempuran besar atas pasukan Shahrbaraz di suatu tempat di Kapadokia. Melalui pertempuran ini,  Anatolia kembali menjadi milik Romawi Timur.

Dengan demikian, Sasaniyah pada mulanya mengalahkan Romawi Timur, kemudian Romawi Timur membalas dengan mengalahkan Sasaniyah pada tahun 622 Masehi. Mereka (kekaisaran Romawi Timur) tidak membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk membalik keadaan. Mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh tahun untuk mengubah sejarah. Wallaahu a’lam bishawaab.


Sumber:

A. D. Lee, Information and Frontiers: Roman Foreign Relations in Late Antiquity, Cambridge University Press, 2 Nov 2006, p127.

Frants Buhl, Nikita Elisséeff: Adhriʿāt. In: The Encyclopaedia of Islam. New Edition, Bd. 1, Leiden 1960, S. 194.

Quranx - Asbab Al-Nuzul by Al-Wahidi

Sunnah - Jami' at-Tirmidhi.

Wikipedia - Bosra, Daraa, Heraclius.