Tanah Longsor Di Jazirah Arab

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Setidaknya sebanyak 274 kabupaten dan kota di Indonesia berada di daerah bahaya longsor. Selain itu sebanyak 40,9 juta jiwa terancam bencana longsor. Kasus paling mematikan yang pernah tercatat di Indonesia adalah longsor Pasirjambu, Bandung, Jawa Barat pada tahun 2010. Longsor ini menimbun 50 rumah bedeng milik buruh, longsor juga menimbun satu pabrik pengolahan teh, satu gedung olahraga, satu koperasi karyawan, satu puskesmas pembantu, dan satu masjid. Jumlah korban jiwa akibat longsor berjumlah 45 orang.

Kota Yanbu (Arab Saudi). Tanah longsor dianggap fenomena alam biasa di Indonesia, tetapi tidak di jazirah Arab. (Wikimedia)
Tanah longsor adalah gerakan massa material, seperti batu, tanah atau puing, menuruni lereng bukit atau tebing. Fenomena ini dapat terjadi secara tiba-tiba atau bergerak perlahan dalam periode waktu yang lama. Menurut jenis pergerakannya, tanah longsor dapat diklasifikasikan dalam empat jenis meliputi fall, topple, slide dan flow. Tanah longsor dapat digolongkan sebagai salah satu dari gerakan-gerakan tersebut atau, lebih umum, dapat merupakan campuran dari beberapa gerakan.

Bencana alam ini dapat terjadi karena kekuatan material melemah. Hal tersebut mengurangi kekuatan 'lem' yang menyatukan butiran batu atau tanah secara bersamaan. Karena terletak di lereng, batu-batu itu tidak lagi cukup kuat untuk menahan gaya gravitasi yang menekan di atasnya.

Allah SWT berfirman sebagai berikut:

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? [Surat Al-Mulk Ayat 16]

Di dalam tafsir al-Baghawi disebutkan bahwa Allah SWT menggerakkan bumi ketika erosi sudah sampai ke dasar. Tanah longsor adalah proses geologis di mana gravitasi menyebabkan batu, tanah, material buatan atau kombinasi ketiganya bergerak menuruni lereng. Beberapa hal dapat memicu tanah longsor seperti erosi tanah dan gempa bumi.

Goncangan tanah yang disebabkan oleh gempa bumi dapat mengacaukan lereng secara langsung (misalnya dengan mendorong pencairan tanah), atau melemahkan material dan menyebabkan retakan yang pada akhirnya akan menghasilkan tanah longsor.

Pada tahun 2009, terjadi gempa bumi di wilayah Arab Saudi sebelah barat. Gempa dengan kekuatan 5,7 mwb tersebut berada pada kedalaman 5 km. Setidaknya tujuh orang terluka di kota Madinah. Selain Madinah, gempa terasa di Al `Ula, Al Wajh, Umm Lajj dan Yanbu` al Bahr. Beberapa retakan tanah besar dan tanah longsor terjadi di kota Madinah akibat dampak dari gempa tersebut. Fenomena ini merupakan yang pertama kali terjadi di jazirah Arab sepanjang sejarah.

Pada tahun 2017, fenomena serupa terulang kembali di Madinah. Warga distrik Al-Azhari di Madinah mengeluh tentang lubang dalam yang diakibatkan oleh tanah longsor. Mereka mendesak pihak berwenang untuk mengambil langkah-langkah segera untuk mengisi lubang pada tanah guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain jazirah Arab, tanah longsor juga terjadi di wilayah barat seperti Mesir, Aljazair, Maroko dan Ethiopia. Tanah longsor juga sudah terjadi di wilayah timur jazirah Arab seperti Iran, Afghanistan, Pakistan Bangladesh dan Malaysia. Di wilayah seperti Indonesia, bencana tanah longsor dianggap sebagai fenomena alam biasa yang sering terjadi.

Hudhaifa b. Usaid meriwayatkan sebagai berikut:

Rasulullah (ﷺ) berada di sebuah bangunan bertingkat dan kami berada di bawahnya. Beliau (turun) perlahan-lahan mendekat dan berkata kepada kami: Apa yang kalian bicarakan? Kami berkata: (Kami sedang mendiskusikan tentang Akhir Zaman). Kemudian beliau bersabda: Hari Kiamat tidak akan datang sampai sepuluh tanda muncul: tanah longsor di timur, tanah longsor di barat, dan tanah longsor di semenanjung Arabia, asap, Dajjal, binatang buas bumi (beast), Gog dan Magog, terbitnya matahari dari barat dan api yang akan memancar dari bagian bawah Adan. Shu'ba mengatakan bahwa 'Abd al-'Aziz Ibn Rufai 'meriwayatkan tentang otoritas Abu Tufail yang menyandarkan pada otoritas Abu Sariha tentang sebuah hadits seperti ini bahwa Rasulullah (ﷺ) tidak menyebutkan (tanda kesepuluh) tetapi beliau mengatakan bahwa yang kesepuluh adalah turunnya Isa putra Maryam (as). Tetapi dalam versi lain (dikatakan bahwa yang kesepuluh) adalah tiupan angin kencang yang akan mendorong manusia ke laut. (Sahih Muslim, Book 41, Hadith 6932)

Simulasi komputer berupa tanah longsor di California tahun 1997. (Wikimedia)
Selain gempa bumi, beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan kerentanan lereng terhadap bencana tanah longsor meliputi: pertama adalah air (curah hujan atau pergerakan laut). Kedua adalah proses erosi, seperti erosi pantai dan erosi sungai. Ketiga adalah kecuraman lereng. Keempat adalah jenis batuan, terdiri dari batu lunak seperti batu lumpur atau batu keras seperti batu kapur.

Kelima adalah susunan lapisan batuan. Keenam adalah proses pelapukan yang mengurangi lengket (kohesi) antara butiran batuan. Ketujuh adalah kurangnya vegetasi yang akan membantu mengikat materi bersama. Kedelapan adalah banjir. Kesembilan adalah aktivitas gunung berapi. Kesepuluh adalah aktivitas manusia - penambangan, pergerakan lalu lintas harian atau urbanisasi yang mengubah pola drainase air permukaan. Wallaahu a’lam bishawaab.

Sumber:

BBC - Bencana longsor: 'Tidak ada alasan pemda dan masyarakat tidak tahu daerah rawan longsor'.

British Geological Survey - Landslides.

King Saud University - Tafsir Al-Baghawi.

Scientific American - Sliding Science: How Are Landslides Caused?

Saudi Gazette - Crack near Well Othman in Madinah puts lives in danger.

Sunnah - Sahih Muslim.

USGS - M 5.7 - western Saudi Arabia.

Wikipedia - Longsor Tenjolaya 2010.