Takut akan Tuhan karena kesadaran diri sendiri dalam bahasa Arab berarti taqwa. Pada kenyataannya, takut pada Allah SWT melambangkan seluruh ajaran Islam. Taqwa-lah yang memberi makna pada ritual ibadah sederhana kita yang kalau tidak ada akan menjadi sia-sia.
Hampir semua kajian mengenai al-Qur'an akan menunjukkan bahwa setiap aspek dari ajarannya diarahkan menuju penciptaan kondisi spiritual berupa rasa takut pada Allah dalam setiap tindakan orang-orang beriman. Tindakan shalat secara fisik seperti ruku (membungkukkan badan) dan bersujud akan menjadi sia-sia tanpa jantung yang dipenuhi taqwa.
Jantung? Benar dan tidak salah tulis. Penelitian yang diterbitkan di Journal of Neuroscience menunjukkan bahwa persepsi kita tentang rasa takut dibentuk oleh detak jantung individu: respons otak terhadap sinyal-sinyal ketakutan, penilaian intensitas sinyal-sinyal ketakutan, dan seberapa efektif sinyal-sinyal ketakutan memasuki kesadaran kita, semuanya lebih memperkuat rasa takut ketika jantung berdetak (pada sistolik), dibandingkan ketika jantung berdetak (pada diastolik).
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai jantung (heart) yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah jantung (heart) yang di dalam dada. [Surat Al-Hajj Ayat 46]
Ibnu Abbas (ra) berkata bahwa yang dimaksud dengan "memahami" adalah merasa takut atas apa yang diperbuat Allah SWT terhadap umat-umat yang terdahulu. Menurut Ibnu Jarir, umat-umat terdahulu itu seperti kaum Aad dan Thamud, kaum Nabi Lot (as) dan kaum Nabi Shuaib (as). Ibnu Katsir berpendapat bahwa "memahami" merupakan fungsi jantung agar mereka dapat mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut.
Takut akan Tuhan berarti menyelamatkan, menjaga, atau melestarikan sesuatu dari apa yang membahayakan. Dalam pengertian religius itu berarti menjaga terhadap kejahatan atau diselamatkan dari dosa. Dalam terminologi Syariah, berkonotasi menjaga jarak dari semua yang merugikan jiwa manusia. Arti dasar dari taqwa adalah menyelamatkan diri dari apa pun yang menyebabkan ketakutan dari segala sesuatu yang membahayakan atau merugikan. Karena itu, taqwa mencakup ketakutan atau kekhawatiran akan konsekuensi yang timbul dari tindakan atau perilaku tertentu.
Berikut adalah contoh mengenai jantung orang- orang yang dapat memahami.
Diriwayatkan oleh Al-'Irbad bin Sariyah:
"Suatu hari setelah shalat subuh, Nabi (ﷺ) menasihati kami sejauh mata menangis dan jantung bergetar karena ketakutan. Seorang pria berkata: 'Sesungguhnya ini adalah nasihat perpisahan. [Jadi, apa pesan Anda kepada] kami wahai Rasulullah? ' Beliau berkata: "Aku memerintahkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah, dan untuk mendengarkan dan menaati, bahkan dalam kasus seorang budak Ethiopia. Memang, siapa pun di antara kalian yang hidup, dia akan melihat banyak perbedaan. Waspadalah terhadap hal-hal yang baru ditemukan, karena memang mereka tersesat. Siapa pun di antara kalian yang melihat itu, maka dia harus tetap berpegang pada Sunnah dan Sunnah Khulafah yang dituntun dengan benar, berpegang teguh pada itu dengan geraham. '" (Jami' at-Tirmidhi, Vol. 5, Book 39, Hadith 2676)
Berikut adalah contoh mengenai jantung orang- orang yang tidak dapat memahami.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud (ra):
"Ada tiga orang pria yang perutnya buncit, tetapi jantungnya tidak terlalu memahami. Mereka berdebat di Kabah. Dua dari mereka berasal dari Quraisy dan satu dari Thaqif; atau dua dari Thaqif, dan satu dari Quraish. Salah satu dari mereka bertanya: 'Apakah menurut kalian Allah dapat mendengar apa yang kita katakan? ' Pria kedua berkata: "Dia bisa mendengar jika kita bicara dengan keras, tetapi Dia tidak bisa mendengar ketika kita diam." Pria ketiga berkata: "Jika Dia dapat mendengar ketika kita bicara dengan keras maka Dia dapat mendengar ketika kita diam." Maka Allah, Yang Perkasa dan Mahakuasa berfirman: Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu. (Jami' at-Tirmidhi, Vol. 5, Book 44, Hadith 3248)
Taqwa, takut akan Allah, adalah satu-satunya kekuatan yang dapat menahan manusia dari kejahatan dan keburukan. Ketakutan akan Allah inilah yang membuat jantung seorang beriman terjaga dan memungkinkannya untuk membedakan yang benar dari yang salah.
Jantung memiliki keterkaitan dengan kecerdasan spiritual. Definisi kecerdasan spiritual adalah intuisi yang datang dari kemurnian hati dan kedalaman iman, memberi kita semangat dan pikiran yang damai. Manfaat positif yang diperoleh adalah memungkinkan kita mengambil keputusan yang lebih berani, untuk tindakan nyata. Kecerdasan spiritual adalah sesuatu yang dengannya kita melakukan pendekatan tentang masalah makna dan nilai-nilai kehidupan.
Dengan menggunakan kecerdasan ini, kita menempatkan tindakan dan hidup kita ke dalam konteks yang lebih luas, lebih kaya, dan lebih bermakna. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang dengannya kita memperkirakan apakah suatu prosedur tertentu atau suatu jalan kehidupan lebih bermakna daripada yang lain.
Diriwayatkan oleh Abu Huraira (ra):
Nabi (ﷺ) berkata, "Allah berfirman," Aku telah bersiap untuk hamba-hamba-Ku yang saleh (hal-hal yang sangat baik) karena tidak ada mata yang pernah melihat, tidak ada telinga yang pernah mendengar dan tidak ada jantung (heart) manusia yang pernah memikirkan.' " (Sahih al-Bukhari, Vol. 9, Book 93, Hadith 589)
Sampai tahun 1990-an, para ilmuwan berasumsi dan sebagian besar dari kita diajari bahwa hanya otaklah yang mengirim informasi dan mengeluarkan perintah ke jantung, tetapi sekarang pengetahuan modern mengetahui bahwa otak-jantung bekerja dua arah. Jantung memiliki sistem saraf intrinsik (intrakardiak). Sistem saraf intrinsik dapat berfungsi sebagai "otak-mini" di dalam jantung, di mana informasi neural yang masuk diproses dan diintegrasikan, dengan hasil akhirnya adalah "penyempurnaan" yang efektif dari dinamika jantung.
Jantung manusia memiliki "otak-mini" yang terdiri dari sekitar 40.000 neuron yang dapat memproses informasi, memahami, belajar, dan mengingat. Penelitian telah menunjukkan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam beberapa cara utama dan bertindak secara independen dari saraf kranial. Salah satu cara penting bagi jantung untuk berkomunikasi dan memengaruhi otak adalah ketika jantung itu koheren - menghasilkan pola yang stabil. Ketika ritme jantung adalah koheren maka tubuh, termasuk otak, mulai mengalami segala macam manfaat, di antaranya kejernihan mental yang lebih besar dan kemampuan intuitif, termasuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
HuffPost - Let Your Heart Talk to Your Brain.
Khaleej Times - Taqwa, the fear of Allah, keeps a believer awake.
King Saud University - Tafsir Al-Tabari.
Panda Gossips - Psychological Definition Of Spiritual Intelligence.
Quranx - Tafsir Ibnu Abbas & Tafsir Ibnu Katsir.
Springer - Neural Supply of the Heart.
Sunnah - Jami' at-Tirmidhi & Sahih al-Bukhari.
University of Brighton - How our heartbeat impacts our perception of fear.
![]() |
| Jantung manusia. (Wikimedia) |
Jantung? Benar dan tidak salah tulis. Penelitian yang diterbitkan di Journal of Neuroscience menunjukkan bahwa persepsi kita tentang rasa takut dibentuk oleh detak jantung individu: respons otak terhadap sinyal-sinyal ketakutan, penilaian intensitas sinyal-sinyal ketakutan, dan seberapa efektif sinyal-sinyal ketakutan memasuki kesadaran kita, semuanya lebih memperkuat rasa takut ketika jantung berdetak (pada sistolik), dibandingkan ketika jantung berdetak (pada diastolik).
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai jantung (heart) yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah jantung (heart) yang di dalam dada. [Surat Al-Hajj Ayat 46]
Ibnu Abbas (ra) berkata bahwa yang dimaksud dengan "memahami" adalah merasa takut atas apa yang diperbuat Allah SWT terhadap umat-umat yang terdahulu. Menurut Ibnu Jarir, umat-umat terdahulu itu seperti kaum Aad dan Thamud, kaum Nabi Lot (as) dan kaum Nabi Shuaib (as). Ibnu Katsir berpendapat bahwa "memahami" merupakan fungsi jantung agar mereka dapat mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut.
Takut akan Tuhan berarti menyelamatkan, menjaga, atau melestarikan sesuatu dari apa yang membahayakan. Dalam pengertian religius itu berarti menjaga terhadap kejahatan atau diselamatkan dari dosa. Dalam terminologi Syariah, berkonotasi menjaga jarak dari semua yang merugikan jiwa manusia. Arti dasar dari taqwa adalah menyelamatkan diri dari apa pun yang menyebabkan ketakutan dari segala sesuatu yang membahayakan atau merugikan. Karena itu, taqwa mencakup ketakutan atau kekhawatiran akan konsekuensi yang timbul dari tindakan atau perilaku tertentu.
Berikut adalah contoh mengenai jantung orang- orang yang dapat memahami.
Diriwayatkan oleh Al-'Irbad bin Sariyah:
"Suatu hari setelah shalat subuh, Nabi (ﷺ) menasihati kami sejauh mata menangis dan jantung bergetar karena ketakutan. Seorang pria berkata: 'Sesungguhnya ini adalah nasihat perpisahan. [Jadi, apa pesan Anda kepada] kami wahai Rasulullah? ' Beliau berkata: "Aku memerintahkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah, dan untuk mendengarkan dan menaati, bahkan dalam kasus seorang budak Ethiopia. Memang, siapa pun di antara kalian yang hidup, dia akan melihat banyak perbedaan. Waspadalah terhadap hal-hal yang baru ditemukan, karena memang mereka tersesat. Siapa pun di antara kalian yang melihat itu, maka dia harus tetap berpegang pada Sunnah dan Sunnah Khulafah yang dituntun dengan benar, berpegang teguh pada itu dengan geraham. '" (Jami' at-Tirmidhi, Vol. 5, Book 39, Hadith 2676)
Berikut adalah contoh mengenai jantung orang- orang yang tidak dapat memahami.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud (ra):
"Ada tiga orang pria yang perutnya buncit, tetapi jantungnya tidak terlalu memahami. Mereka berdebat di Kabah. Dua dari mereka berasal dari Quraisy dan satu dari Thaqif; atau dua dari Thaqif, dan satu dari Quraish. Salah satu dari mereka bertanya: 'Apakah menurut kalian Allah dapat mendengar apa yang kita katakan? ' Pria kedua berkata: "Dia bisa mendengar jika kita bicara dengan keras, tetapi Dia tidak bisa mendengar ketika kita diam." Pria ketiga berkata: "Jika Dia dapat mendengar ketika kita bicara dengan keras maka Dia dapat mendengar ketika kita diam." Maka Allah, Yang Perkasa dan Mahakuasa berfirman: Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu. (Jami' at-Tirmidhi, Vol. 5, Book 44, Hadith 3248)
Taqwa, takut akan Allah, adalah satu-satunya kekuatan yang dapat menahan manusia dari kejahatan dan keburukan. Ketakutan akan Allah inilah yang membuat jantung seorang beriman terjaga dan memungkinkannya untuk membedakan yang benar dari yang salah.
Jantung memiliki keterkaitan dengan kecerdasan spiritual. Definisi kecerdasan spiritual adalah intuisi yang datang dari kemurnian hati dan kedalaman iman, memberi kita semangat dan pikiran yang damai. Manfaat positif yang diperoleh adalah memungkinkan kita mengambil keputusan yang lebih berani, untuk tindakan nyata. Kecerdasan spiritual adalah sesuatu yang dengannya kita melakukan pendekatan tentang masalah makna dan nilai-nilai kehidupan.
![]() |
| Sama seperti otak, jantung dapat memproses informasi, memahami, belajar, dan mengingat. (Pixabay) |
Diriwayatkan oleh Abu Huraira (ra):
Nabi (ﷺ) berkata, "Allah berfirman," Aku telah bersiap untuk hamba-hamba-Ku yang saleh (hal-hal yang sangat baik) karena tidak ada mata yang pernah melihat, tidak ada telinga yang pernah mendengar dan tidak ada jantung (heart) manusia yang pernah memikirkan.' " (Sahih al-Bukhari, Vol. 9, Book 93, Hadith 589)
Sampai tahun 1990-an, para ilmuwan berasumsi dan sebagian besar dari kita diajari bahwa hanya otaklah yang mengirim informasi dan mengeluarkan perintah ke jantung, tetapi sekarang pengetahuan modern mengetahui bahwa otak-jantung bekerja dua arah. Jantung memiliki sistem saraf intrinsik (intrakardiak). Sistem saraf intrinsik dapat berfungsi sebagai "otak-mini" di dalam jantung, di mana informasi neural yang masuk diproses dan diintegrasikan, dengan hasil akhirnya adalah "penyempurnaan" yang efektif dari dinamika jantung.
Jantung manusia memiliki "otak-mini" yang terdiri dari sekitar 40.000 neuron yang dapat memproses informasi, memahami, belajar, dan mengingat. Penelitian telah menunjukkan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam beberapa cara utama dan bertindak secara independen dari saraf kranial. Salah satu cara penting bagi jantung untuk berkomunikasi dan memengaruhi otak adalah ketika jantung itu koheren - menghasilkan pola yang stabil. Ketika ritme jantung adalah koheren maka tubuh, termasuk otak, mulai mengalami segala macam manfaat, di antaranya kejernihan mental yang lebih besar dan kemampuan intuitif, termasuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
HuffPost - Let Your Heart Talk to Your Brain.
Khaleej Times - Taqwa, the fear of Allah, keeps a believer awake.
King Saud University - Tafsir Al-Tabari.
Panda Gossips - Psychological Definition Of Spiritual Intelligence.
Quranx - Tafsir Ibnu Abbas & Tafsir Ibnu Katsir.
Springer - Neural Supply of the Heart.
Sunnah - Jami' at-Tirmidhi & Sahih al-Bukhari.
University of Brighton - How our heartbeat impacts our perception of fear.

