Penggunaan dan produksi madu memiliki sejarah panjang dan bervariasi. Mengambil madu dari alam sudah dilakukan manusia sejak zaman kuno. Manusia sepertinya mulai berburu madu setidaknya 8.000 tahun yang lalu, sebagaimana dibuktikan oleh lukisan gua di Valencia, Spanyol. Lukisan batu Mesolithic tersebut menunjukkan dua pemburu madu sedang mengumpulkan madu dan sarang lebah dari sarang lebah liar.
Sisa madu tertua yang diketahui ditemukan di negara Georgia. Para peneliti menemukan bahwa madu tetap berada di permukaan bagian dalam dari bejana tanah liat yang ditemukan di makam kuno, yang berumur sekitar 4.700-5.500 tahun. Rasa manis disebabkan oleh unsur monosakarida fruktosa dan glukosa, dan memiliki rasa manis yang hampir sama dengan gula. Madu menyediakan 46 kalori dalam satu porsi satu sendok makan (15 ml). Minuman dari lebah ini dianggap aman jika tidak dikonsumsi berlebihan.
Manfaat dari madu secara medis yang sudah teruji melalui penelitian adalah mengatasi ketombe, mengurangi gejala alergi, sebagai obat batuk, antibiotik pada luka akibat goresan, antibiotik pada luka bakar, pengobatan luka pada penderita diabetes, mencegah sel kanker, mengurangi kerusakan yang terjadi di usus besar, serta mengobati konjungtivitis.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. [Surat An-Nahl Ayat 69]
Ibnu Katsir mengatakan (obat yang menyembuhkan) yang berarti ada obat dalam madu untuk penyakit yang diderita manusia. Kata fiihi shifaun lilnnasi berarti bahwa madu adalah pengobatan yang tepat untuk setiap penyakit "dingin", karena madu itu "panas", dan penyakit harus diperlakukan dengan kebalikannya. Menurut pendapat Imam Jalaluddin as-Suyuthi, madu adalah obat dari sebagian penyakit saja karena ditunjukkan oleh ungkapan lafal syifaaun yang memakai nakirah, atau sebagai obat untuk berbagai macam penyakit bila digabungkan dengan obat-obat lainnya.
Diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri ra.
Seorang pria datang kepada Nabi (ﷺ) dan berkata, "Saudaraku mengalami sakit perut (abdominal pain)." Nabi (ﷺ) berkata kepadanya, "Beri dia madu." Pria itu datang untuk kedua kalinya dan Nabi (ﷺ) berkata kepadanya, ''Beri dia madu.'' Dia datang untuk ketiga kalinya dan Nabi (ﷺ) berkata," Beri dia madu. "Dia kembali lagi dan berkata, "Saya telah melakukan itu.'' Nabi (ﷺ) kemudian bersabda," Allah Swt telah mengatakan kebenaran, tetapi abdomen saudaramu telah berbohong. Beri dia madu." Maka pria itu memberi minum saudaranya dengan madu dan sembuh. (Sahih Bukhari Vol. 7, Book 71, Hadith 588)
Sebuah studi telah menemukan aktivitas antibakteri yang terdapat pada madu lebah terhadap bakteri escherichia coli. Peneliti menggunakan sampel madu yang telah dipanaskan, kemudian disimpan dalam jangka waktu yang lama. Pemanasan dan penyimpanan mengakibatkan kadar air menurun, hidroksimetil furfural (HMF) mengalami peningkatan, adapun nilai pH tidak berubah. Untuk mempelajari efek penyembuhan pada madu, peneliti mengambil sampel escherichia coli dari anak-anak dan anak sapi. Sifat antibakteri pada madu terbukti efektif terhadap escherichia coli. Kandungan air, nilai pH, HMF dan keberadaan H2O, semua memainkan peran penting dalam potensi madu sebagai agen antibakteri.
Escherichia coli adalah salah satu jenis bakteri yang dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Para ilmuwan mengatakan bahwa Escherichia coli menyebabkan penyakit mulas atau melilit (abdominal pain). Diagnosa penyakit mulas atau melilit meliputi gastroenteritis dan sindrom usus yang teriritasi. Gastroenteritis adalah kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada saluran pencernaan yang melibatkan lambung dan usus kecil, sehingga mengakibatkan kombinasi diare, muntah, dan sakit serta kejang perut. Adapun sindrom usus yang teriritasi (IBS) adalah sekelompok gejala-termasuk sakit perut dan perubahan pola gerakan usus. Gejala yang ditimbulkan berupa diare, sembelit, dan sakit perut.
Penggunaan madu sebagai sarana pengobatan telah dilakukan oleh bangsa Sumeria dan Babylonia. Dalam salah satu catatan tertua dari tahun 2000 SM, ada resep yang ditulis pada tablet tanah liat. Mereka menggunakan madu untuk mengobati luka. Madu juga digunakan untuk mengobati gangguan mata dan telinga. Bangsa Mesir kuno juga menggunakan madu sebagai terapi. Menurut Ebers Papyrus (1550 SM) terdapat resep obat dengan campuran madu untuk mengobati kebotakan, luka iris, luka bakar, abses, luka dan kondisi kulit yang dihasilkan dari penyakit kudis. Kegunaan lain termasuk: obat setelah operasi termasuk sunat, mengurangi peradangan dan melonggarkan sendi kaku.
Smith papyrus (1700 SM) memperlihatkan resep seperti pengobatan luka dan bisul dengan linen yang dibasahi dengan kemenyan dan madu. Resep pengobatan yang paling absurd adalah malachite (karbonat tembaga terhidrasi) dan madu digunakan untuk kondisi mata seperti konjungtivitis.
Bangsa Cina kuno menganggap madu sebagai obat yang penting seperti yang ditunjukkan dalam tulisan-tulisan mereka yang berasal dari sekitar 2000 SM. Menurut pengobatan Cina, madu memiliki karakter yang seimbang (tidak Yin atau Yang) dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip elemen bumi, memasuki saluran paru-paru, limpa dan usus besar. Selama Dinasti Xin, sekitar 220 SM, sebuah buku pengobatan Tiongkok mengatakan bahwa mereka yang sering mengkonsumsi madu dapat tetap sehat. Selain itu, madu dapat menyembuhkan gangguan pencernaan. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
Healthywithhoney - Honey in history. Prehistory, Ancient Egypt, Ancient China.
NEJM - Pathogenesis of Escherichia coli Gastroenteritis in Man — Another Mechanism.
PubMed - Antibacterial activity of bee honey and its therapeutic usefulness against Escherichia coli O157:H7 and Salmonella typhimurium infection.
Quranx - Tafsir Ibnu Katsir & Tafsir Jalalayn.
ScienceDirect - Association of enteroaggregative Escherichia coli with irritable bowel syndrome.
Sunnah - Sahih al-Bukhari.
Wikipedia - Gastroenteritis, Honey, Irritable bowel syndrome.
| Madu sudah digunakan untuk mengobati beberapa jenis penyakit pada zaman dahulu. (Wikimedia) |
Manfaat dari madu secara medis yang sudah teruji melalui penelitian adalah mengatasi ketombe, mengurangi gejala alergi, sebagai obat batuk, antibiotik pada luka akibat goresan, antibiotik pada luka bakar, pengobatan luka pada penderita diabetes, mencegah sel kanker, mengurangi kerusakan yang terjadi di usus besar, serta mengobati konjungtivitis.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. [Surat An-Nahl Ayat 69]
Ibnu Katsir mengatakan (obat yang menyembuhkan) yang berarti ada obat dalam madu untuk penyakit yang diderita manusia. Kata fiihi shifaun lilnnasi berarti bahwa madu adalah pengobatan yang tepat untuk setiap penyakit "dingin", karena madu itu "panas", dan penyakit harus diperlakukan dengan kebalikannya. Menurut pendapat Imam Jalaluddin as-Suyuthi, madu adalah obat dari sebagian penyakit saja karena ditunjukkan oleh ungkapan lafal syifaaun yang memakai nakirah, atau sebagai obat untuk berbagai macam penyakit bila digabungkan dengan obat-obat lainnya.
Diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri ra.
Seorang pria datang kepada Nabi (ﷺ) dan berkata, "Saudaraku mengalami sakit perut (abdominal pain)." Nabi (ﷺ) berkata kepadanya, "Beri dia madu." Pria itu datang untuk kedua kalinya dan Nabi (ﷺ) berkata kepadanya, ''Beri dia madu.'' Dia datang untuk ketiga kalinya dan Nabi (ﷺ) berkata," Beri dia madu. "Dia kembali lagi dan berkata, "Saya telah melakukan itu.'' Nabi (ﷺ) kemudian bersabda," Allah Swt telah mengatakan kebenaran, tetapi abdomen saudaramu telah berbohong. Beri dia madu." Maka pria itu memberi minum saudaranya dengan madu dan sembuh. (Sahih Bukhari Vol. 7, Book 71, Hadith 588)
![]() |
| Bakteri escherichia coli patogen dapat menyebabkan penyakit mulas. (Wikimedia) |
Escherichia coli adalah salah satu jenis bakteri yang dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Para ilmuwan mengatakan bahwa Escherichia coli menyebabkan penyakit mulas atau melilit (abdominal pain). Diagnosa penyakit mulas atau melilit meliputi gastroenteritis dan sindrom usus yang teriritasi. Gastroenteritis adalah kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada saluran pencernaan yang melibatkan lambung dan usus kecil, sehingga mengakibatkan kombinasi diare, muntah, dan sakit serta kejang perut. Adapun sindrom usus yang teriritasi (IBS) adalah sekelompok gejala-termasuk sakit perut dan perubahan pola gerakan usus. Gejala yang ditimbulkan berupa diare, sembelit, dan sakit perut.
Penggunaan madu sebagai sarana pengobatan telah dilakukan oleh bangsa Sumeria dan Babylonia. Dalam salah satu catatan tertua dari tahun 2000 SM, ada resep yang ditulis pada tablet tanah liat. Mereka menggunakan madu untuk mengobati luka. Madu juga digunakan untuk mengobati gangguan mata dan telinga. Bangsa Mesir kuno juga menggunakan madu sebagai terapi. Menurut Ebers Papyrus (1550 SM) terdapat resep obat dengan campuran madu untuk mengobati kebotakan, luka iris, luka bakar, abses, luka dan kondisi kulit yang dihasilkan dari penyakit kudis. Kegunaan lain termasuk: obat setelah operasi termasuk sunat, mengurangi peradangan dan melonggarkan sendi kaku.
![]() |
| Smith papyrus. (Wikimedia) |
Bangsa Cina kuno menganggap madu sebagai obat yang penting seperti yang ditunjukkan dalam tulisan-tulisan mereka yang berasal dari sekitar 2000 SM. Menurut pengobatan Cina, madu memiliki karakter yang seimbang (tidak Yin atau Yang) dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip elemen bumi, memasuki saluran paru-paru, limpa dan usus besar. Selama Dinasti Xin, sekitar 220 SM, sebuah buku pengobatan Tiongkok mengatakan bahwa mereka yang sering mengkonsumsi madu dapat tetap sehat. Selain itu, madu dapat menyembuhkan gangguan pencernaan. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
Healthywithhoney - Honey in history. Prehistory, Ancient Egypt, Ancient China.
NEJM - Pathogenesis of Escherichia coli Gastroenteritis in Man — Another Mechanism.
PubMed - Antibacterial activity of bee honey and its therapeutic usefulness against Escherichia coli O157:H7 and Salmonella typhimurium infection.
Quranx - Tafsir Ibnu Katsir & Tafsir Jalalayn.
ScienceDirect - Association of enteroaggregative Escherichia coli with irritable bowel syndrome.
Sunnah - Sahih al-Bukhari.
Wikipedia - Gastroenteritis, Honey, Irritable bowel syndrome.

