Di sebelah selatan semenanjung Sinai (Mesir), terdapat sebuah gunung bernama gunung Sinai. Gunung ini memiliki pemukiman bernama Saint Catherine (St. Katrine). Sejarah kota St. Katrine tercatat dimulai pada era kekaisaran Romawi Timur. Terdapat bangunan bernama biara Saint Catherine yang dibangun atas perintah Kaisar Justinian antara 527 hingga 565 Masehi.
Pemukiman Saint Catherine sendiri dihuni oleh masyarakat badui bernama Jabaliya. Di tempat mereka terdapat kebun-kebun besar dan tertata dengan baik, kemungkinan berasal dari masa ketika biara didirikan dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan para pendeta dan masyarakat Jabaliya. Ada juga kebun milik suku Jabaliya yang rimbun di wilayah Wadi Mathar, Wadi Shaq dan Wadi Zawatin. Di tempat tersebut terdapat ngarai kecil dengan kolam air, pohon murbei dan pohon zaitun berusia 1000 tahun, serta reruntuhan Romawi Timur.
Kebun terbesar berada di Wadi El Arbaein yang dimiliki oleh biara. Luas kebun sekitar 20 ha dan berisi lebih dari 700 pohon zaitun yang sangat tua. Ketika berkunjung pada tahun 1816, Burkhardt menggambarkan kebun dengan pohon-pohon zaitun tersebut sebagai "tempat yang menyenangkan untuk beristirahat".
Masyarakat Jabaliya memanfaatkan kebun zaitun sebagai sumber makanan. Pengairan dilakukan dari sumur yang digali tangan di mana tingkat air masih memungkinkan. Kebun-kebun bertembok merupakan pemandangan khas dari wadi di pegunungan tinggi. Ada lebih dari 400 kebun kebun di teritori Jabaliya, masing-masing rata-rata seluas 0,2 ha. Sebagian dimiliki oleh biara tetapi dirawat oleh suku Jabaliya dengan imbalan setengah dari hasil panen.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan sibghin bagi orang-orang yang makan. (Surat Al-Mu’minun Ayat 20)
Imam Husain bin Mas'ud Al-Baghawi mengutip pendapat Ibnu Zayd mengatakan bahwa Thursina adalah gunung tempat Musa (as) dipanggil oleh Allah SWT. Lokasinya antara Mesir (Kairo) dan Ayla (Yordania), atau wilayah semenanjung Sinai. Ibnu Katsir tidak menyebut lokasi. Beliau mengutip pendapat beberapa ulama bahwa penggunaan kata Tur digunakan untuk gunung dengan pohon di atasnya. Adapun gunung yang tidak memiliki pepohonan disebut Jabal, bukan Tur. Ibnu Katsir berpendapat bahwa gunung Sinai sama dengan Tur Sinin. Tur Sinin adalah gunung di mana Allah SWT berbicara secara langsung kepada Musa bin 'Imran, dan di pegunungan sekitarnya ada pohon zaitun.
Pengetahuan yang mendalam tentang tanah tempat mereka tinggal adalah salah satu keunggulan suku Jabaliya. Di gunung, penggunaan lahan masih bersifat tradisional dalam bentuk sistem transhumance (bentuk penggembalaan berpindah-pindah yang dilakukan antara padang rumput gunung di musim panas dan dataran rendah pada sisa tahun tersebut). Pada awal musim panas suku Jabaliya akan memindahkan tempat tinggal mereka ke gunung yang lebih tinggi untuk mengambil keuntungan dari pertumbuhan tanaman akhir musim semi, selain itu juga untuk merawat dan memanen kebun gunung mereka.
Eutykhes, pendeta tinggi dari Alexandria di abad kesembilan Masehi, menulis bahwa ketika Kaisar Justinian membangun biara, ia menunjuk sekitar dua ratus keluarga yang dibawa dari Pontos of Anatolia, dan dari Alexandria. Mereka ditugaskan untuk menjaga, membela, dan membantu para pendeta. Suku Badui modern yang tinggal di gunung Sinai dianggap sebagai keturunan dari keluarga-keluarga tersebut yang masuk Islam pada abad ketujuh. Mereka adalah yang hari ini membentuk suku Jabaliya.
Salah satu peninggalan mereka adalah pertanian orchard yang merupakan ciri khas kekaisaran Romawi Timur. Masyarakat Jabaliya masih menggunakan lahan yang mereka buat ribuan tahun lalu tersebut. Para pendeta dari Yunani membawa buah dan pohon zaitun serta teknik mencangkok. Kebun-kebun diberi tembok pembatas untuk melindungi tanaman dari hewan pengganggu dan untuk meningkatkan kesuburan di lanskap berbatu. Dengan kondisi lanskap seperti itu, tanah di kebun-kebun tersebut didapat dan diangkut dari luar ke kebun. Jabaliya adalah satu-satunya masyarakat Badui yang mengadopsi bentuk pertanian seperti ini.
Dalam surat Al-Mu’minun Ayat 20 diatas, terdapat kata sibghin (وَصِبْغٍ). Menurut pendapat Qatadah bin an-Nu'man (ra), sibghin adalah bahan penyedap makanan. Penduduk Saint Catherine biasa menggunakan minyak zaitun sebagai pelengkap dalam menu makanan mereka. Nabi Muhammad (Saw) ternyata juga menjadikan minyak zaitun sebagai campuran pada makanan yang beliau makan.
'Urwa b. Zubair meriwayatkan dari 'A'ishah ra.
Rasulullah (ﷺ) wafat (dalam keadaan) belum pernah terjadi bahwa beliau bisa makan roti dengan minyak zaitun dua kali selama sehari. (Sahih Muslim, Book 42, Hadith 7093)
Diriwayatkan oleh Anas ibn Malik ra.
Nabi (ﷺ) datang mengunjungi Sa'd ibn Ubaydah, dan beliau juga membawa roti serta minyak zaitun. Beliau makan (dengan itu). Kemudian Nabi (ﷺ) bersabda: Semoga (orang-orang) yang puasa berbuka puasa bersama Anda, semoga orang saleh makan makanan Anda, dan semoga para malaikat berdoa untuk memberkati Anda. (Sunan Abi Dawud, Book 27, Hadith 3845. Lihat juga Riyad as-Salihin, Book 9, Hadith 1267)
Menurut catatan sejarah yang sudah turun temurun di Sinai, Nabi Muhammad (Saw) ternyata mengetahui dan bahkan mengunjungi biara dan para pendeta yang ada di sana. Pada tahun 626 AD, sebuah delegasi dari Sinai meminta surat perlindungan dari Rasulullah. Nabi memenuhi permintaan mereka. Sebuah surat ditulis oleh 'Alī ibn Abī Ṭālib (ra) kemudian disahkan oleh Nabi dengan cara meletakkan telapak tangannya di atas surat. Beberapa salinan surat yang otentik ditampilkan di perpustakaan Saint Catherine, beberapa di antaranya disaksikan oleh para hakim Islam untuk menegaskan keaslian sejarah. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
Archive - Mohammed and the Holy Monastery of Sinai.
Discover Sinai - The High Mountain Region.
Josep Maria Mallarach i Carrera, Josep-Maria Mallarach: Protected Landscapes and Cultural and Spiritual Values, Kasparek Verlag, 2008, p28.
King Saud University - Tafsir al-Baghawi.
Quranx - Tafsir Ibnu Katsir.
Sunnah - Sunan Abi Dawud & Sahih Muslim.
Wikipedia - Ashtiname of Muhammad & Saint Catherine, Egypt.
![]() |
| Biara Saint Catherine. (Wikimedia) |
Kebun terbesar berada di Wadi El Arbaein yang dimiliki oleh biara. Luas kebun sekitar 20 ha dan berisi lebih dari 700 pohon zaitun yang sangat tua. Ketika berkunjung pada tahun 1816, Burkhardt menggambarkan kebun dengan pohon-pohon zaitun tersebut sebagai "tempat yang menyenangkan untuk beristirahat".
Masyarakat Jabaliya memanfaatkan kebun zaitun sebagai sumber makanan. Pengairan dilakukan dari sumur yang digali tangan di mana tingkat air masih memungkinkan. Kebun-kebun bertembok merupakan pemandangan khas dari wadi di pegunungan tinggi. Ada lebih dari 400 kebun kebun di teritori Jabaliya, masing-masing rata-rata seluas 0,2 ha. Sebagian dimiliki oleh biara tetapi dirawat oleh suku Jabaliya dengan imbalan setengah dari hasil panen.
Allah SWT berfirman sebagai berikut:
Dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan sibghin bagi orang-orang yang makan. (Surat Al-Mu’minun Ayat 20)
Imam Husain bin Mas'ud Al-Baghawi mengutip pendapat Ibnu Zayd mengatakan bahwa Thursina adalah gunung tempat Musa (as) dipanggil oleh Allah SWT. Lokasinya antara Mesir (Kairo) dan Ayla (Yordania), atau wilayah semenanjung Sinai. Ibnu Katsir tidak menyebut lokasi. Beliau mengutip pendapat beberapa ulama bahwa penggunaan kata Tur digunakan untuk gunung dengan pohon di atasnya. Adapun gunung yang tidak memiliki pepohonan disebut Jabal, bukan Tur. Ibnu Katsir berpendapat bahwa gunung Sinai sama dengan Tur Sinin. Tur Sinin adalah gunung di mana Allah SWT berbicara secara langsung kepada Musa bin 'Imran, dan di pegunungan sekitarnya ada pohon zaitun.
![]() |
| Gunung Sinai terletak antara Kairo (Mesir) dan Ayla (Yordania). (Wikimedia) |
Eutykhes, pendeta tinggi dari Alexandria di abad kesembilan Masehi, menulis bahwa ketika Kaisar Justinian membangun biara, ia menunjuk sekitar dua ratus keluarga yang dibawa dari Pontos of Anatolia, dan dari Alexandria. Mereka ditugaskan untuk menjaga, membela, dan membantu para pendeta. Suku Badui modern yang tinggal di gunung Sinai dianggap sebagai keturunan dari keluarga-keluarga tersebut yang masuk Islam pada abad ketujuh. Mereka adalah yang hari ini membentuk suku Jabaliya.
Salah satu peninggalan mereka adalah pertanian orchard yang merupakan ciri khas kekaisaran Romawi Timur. Masyarakat Jabaliya masih menggunakan lahan yang mereka buat ribuan tahun lalu tersebut. Para pendeta dari Yunani membawa buah dan pohon zaitun serta teknik mencangkok. Kebun-kebun diberi tembok pembatas untuk melindungi tanaman dari hewan pengganggu dan untuk meningkatkan kesuburan di lanskap berbatu. Dengan kondisi lanskap seperti itu, tanah di kebun-kebun tersebut didapat dan diangkut dari luar ke kebun. Jabaliya adalah satu-satunya masyarakat Badui yang mengadopsi bentuk pertanian seperti ini.
Dalam surat Al-Mu’minun Ayat 20 diatas, terdapat kata sibghin (وَصِبْغٍ). Menurut pendapat Qatadah bin an-Nu'man (ra), sibghin adalah bahan penyedap makanan. Penduduk Saint Catherine biasa menggunakan minyak zaitun sebagai pelengkap dalam menu makanan mereka. Nabi Muhammad (Saw) ternyata juga menjadikan minyak zaitun sebagai campuran pada makanan yang beliau makan.
![]() |
| Nabi Muhammad Saw biasa makan roti yang diberi minyak zaitun. (Pixabay) |
Rasulullah (ﷺ) wafat (dalam keadaan) belum pernah terjadi bahwa beliau bisa makan roti dengan minyak zaitun dua kali selama sehari. (Sahih Muslim, Book 42, Hadith 7093)
Diriwayatkan oleh Anas ibn Malik ra.
Nabi (ﷺ) datang mengunjungi Sa'd ibn Ubaydah, dan beliau juga membawa roti serta minyak zaitun. Beliau makan (dengan itu). Kemudian Nabi (ﷺ) bersabda: Semoga (orang-orang) yang puasa berbuka puasa bersama Anda, semoga orang saleh makan makanan Anda, dan semoga para malaikat berdoa untuk memberkati Anda. (Sunan Abi Dawud, Book 27, Hadith 3845. Lihat juga Riyad as-Salihin, Book 9, Hadith 1267)
Menurut catatan sejarah yang sudah turun temurun di Sinai, Nabi Muhammad (Saw) ternyata mengetahui dan bahkan mengunjungi biara dan para pendeta yang ada di sana. Pada tahun 626 AD, sebuah delegasi dari Sinai meminta surat perlindungan dari Rasulullah. Nabi memenuhi permintaan mereka. Sebuah surat ditulis oleh 'Alī ibn Abī Ṭālib (ra) kemudian disahkan oleh Nabi dengan cara meletakkan telapak tangannya di atas surat. Beberapa salinan surat yang otentik ditampilkan di perpustakaan Saint Catherine, beberapa di antaranya disaksikan oleh para hakim Islam untuk menegaskan keaslian sejarah. Wallaahu a’lam bishawaab.
Sumber:
Archive - Mohammed and the Holy Monastery of Sinai.
Discover Sinai - The High Mountain Region.
Josep Maria Mallarach i Carrera, Josep-Maria Mallarach: Protected Landscapes and Cultural and Spiritual Values, Kasparek Verlag, 2008, p28.
King Saud University - Tafsir al-Baghawi.
Quranx - Tafsir Ibnu Katsir.
Sunnah - Sunan Abi Dawud & Sahih Muslim.
Wikipedia - Ashtiname of Muhammad & Saint Catherine, Egypt.


